Uji Nalar Kritis dan Literasi Digital, 12 Peserta Ikuti Tes Tertulis Seleksi Duta Kampus Etam UNIKARTA 2026



Sebanyak 12 peserta yang dinyatakan lolos tahap pemberkasan mengikuti Tes Tertulis Seleksi Duta Kampus Etam Universitas Kutai Kartanegara (UNIKARTA) Tenggarong Tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Rektorat Lantai 2 Gedung Rektorat UNIKARTA pada hari Rabu, 4 November 2026, dengan menggunakan platform ujian berbasis digital.
Dalam pelaksanaannya, setiap peserta diwajibkan membawa laptop pribadi dalam kondisi baik dan siap digunakan, dengan daya baterai yang mencukupi selama pelaksanaan tes, serta alat tulis masing-masing. Ketentuan tersebut merupakan bagian dari persiapan teknis untuk mendukung kelancaran ujian berbasis digital.
Adapun materi yang diujikan meliputi Wawasan Ke-UNIKARTA-an, termasuk Rancangan Awal Strategis (Ranwal) UNIKARTA, Wawasan Kebangsaan, Isu Pendidikan, serta Isu Strategis Kalimantan Timur. Materi tersebut mencakup berbagai aspek pengetahuan yang berkaitan dengan institusi, kebangsaan, pendidikan, serta perkembangan dan persoalan strategis di Kalimantan Timur.
Tes tertulis menjadi salah satu tahapan penting dalam rangkaian seleksi untuk menggali kapasitas analitik, wawasan, serta karakter kepemimpinan peserta. Melalui tahapan ini, panitia ingin memperoleh gambaran mengenai kesiapan intelektual, ketajaman nalar kritis, dan kemampuan kandidat dalam memahami serta mencermati berbagai persoalan.
Ketua Panitia Pelaksana Seleksi Duta Kampus Etam UNIKARTA Tahun 2026, Dimas Yulianto, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa tes tertulis merupakan instrumen krusial untuk menggali kapasitas analitik dan karakter kepemimpinan peserta secara objektif. Tahapan ini dirancang untuk memastikan bahwa kandidat yang nantinya terpilih sebagai Duta Kampus UNIKARTA memiliki kesiapan mental dan intelektual yang matang.
Menurutnya, melalui sistem ujian digital, panitia tidak hanya menilai ketepatan peserta dalam menjawab setiap pertanyaan, tetapi juga menggali ketajaman nalar kritis, kebijaksanaan dalam merespons persoalan, serta kemampuan berkolaborasi dalam sebuah tim.
“Seleksi Duta Kampus Universitas Kutai Kartanegara pada hakikatnya adalah proses mencari figur yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, keluhuran budi, dan kecakapan adaptasi di era modern,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan tes berbasis digital tersebut dirancang untuk melampaui penilaian akademis konvensional. Melalui tahapan ini, panitia ingin menguji kedalaman wawasan, literasi teknologi, nalar kritis, serta kemampuan para kandidat dalam memecahkan masalah secara cepat dan presisi.
Selain itu, sejumlah kriteria yang menjadi perhatian panitia meliputi kedewasaan emosional, kecakapan berkolaborasi, empati, serta kemampuan peserta dalam menempatkan diri ketika mempertahankan argumen di tengah dinamika.
Dimas menegaskan bahwa Duta Kampus Etam UNIKARTA diharapkan menjadi sosok paripurna, yakni cerdas dalam berpikir, adaptif terhadap kemajuan teknologi, santun dalam bertindak, dan visioner. Mereka bukan sekadar wajah institusi, melainkan representasi mahasiswa yang berintegritas, progresif, melek digital, serta senantiasa membumi.
Sosok tersebut juga diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur. Dengan demikian, setiap tindakan baik dan pemikiran positif yang dimiliki para duta dapat memberikan dampak nyata bagi almamater serta menjadi representasi kampus dalam berbagai kegiatan akademik maupun non-akademik dengan tetap menjunjung etika ketimuran.
Melihat pelaksanaan tes tertulis tersebut, Dimas mengaku bangga terhadap antusiasme dan kemampuan para peserta dalam mengikuti proses seleksi.
“Luar biasa. Ruang seleksi di Ruang Rapat Rektorat Lantai 2 hari ini hidup dengan gagasan segar yang konstruktif. Keaktifan peserta dan kelancaran mereka menggunakan platform digital membuktikan mahasiswa kita siap menghadapi transformasi,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan optimisme terhadap kualitas kepemimpinan generasi penerus UNIKARTA, terutama dengan melihat antusiasme, kemampuan adaptasi terhadap sistem ujian digital, serta ketajaman analisis yang ditunjukkan para kandidat selama mengikuti tes.
Kepada seluruh peserta, Dimas berpesan agar rangkaian seleksi dimanfaatkan sebagai proses untuk mengenali dan mengembangkan potensi diri. Ia mengingatkan bahwa setiap tahapan seleksi merupakan kesempatan untuk belajar dan menempa diri, bukan semata-mata tentang menang atau kalah.
“Siapa pun yang melangkah ke tahap selanjutnya, bawalah amanah ini dengan integritas. Bagi yang masih harus belajar, teruslah berkarya, karena proses yang baik tidak pernah mengkhianati hasil,” pesannya.
Dimas berharap seluruh peserta dapat terus berproses dengan kerendahan hati. Menurutnya, mahkota sebenarnya dari seorang duta bukan hanya terletak pada gelar yang diperoleh, melainkan pada kemampuan untuk terus menginspirasi dan memberikan kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar serta kampus ungu tercinta, Universitas Kutai Kartanegara.
